Tampilkan postingan dengan label my thought. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my thought. Tampilkan semua postingan

Jika Kebebasan Itu Benar Ada



Bicaralah tentang kebebasan. Selayaknya engkau bicara dengan bebas, maka siapapun juga layak untuk diam. Selayaknya engkau merasa benar dan mereka keliru, maka siapapun juga layak untuk merasa benar dan engkau keliru. Seberapa besar engkau merasa bebas untuk berteriak, maka sebesar itu pula siapapun merasa bebas untuk mengacuhkanmu. Bebaslah untuk beradab atau tidak sama sekali. Bebaslah untuk menuntut, tak setuju, tapi siapapun sama juga bebasnya untuk berkata ya, setuju dan tidak membantah. Tak satu sama lain pun yang berhak untuk mengatakan yang lain pengecut atau pemberani.
Jika kebebasan itu benar ada, mengapa lagi engkau merasa perlu untuk memperjuangkannya. Karena sekali waktu kebebasan itu diperjuangkan, ia hanya akan menjadi tahanan dalam penjara pribadi milik seseorang. Sekali-kali kebebasan tak pernah diperjuangkan. Keberadaannya akan hambar. Maka bebaslah untuk memaki, menghujat, menghancurkan dan merampas, sama layaknya siapapun bebas untuk berkata sopan, memperbaiki diri, membangun dan memberi. Dan tak satu sama lain pun yang berhak menghakimi.
Selayaknya engkau merasa bebas untuk tidak memiliki aturan, maka sama halnya siapapun layak untuk merasa bebas dengan memiliki aturan, yang dianggapnya cara untuk kebebasannya sendiri. Jika engkau tak menyukai cara kebebasan orang lain, maka mengapa tidak membuat rancangan kebebasan untuk dirimu sendiri, daripada menuntut perubahan pemahaman kebebasan orang lain, yang sama artinya menghancurkan kebebasan itu sendiri.
Jika kebebasan itu benar ada, maka siapapun bebas untuk tidak percaya, sama halnya siapapun bebas untuk percaya. Siapapun bebas untuk ber-Tuhan dengan sungguh-sungguh, atau tidak sama sekali. Selayaknya engkau bebas dalam realis, siapapun juga bebas dalam idealis. Tak akan pernah ada kebebasan yang hanya bisa membebaskan dirimu sendiri. Karena kebebasan tak dimiliki untuk seseorang. Ia bebas tanpa menghakimi.
Selayaknya engkau merasa kebebasan menurut pemahamanmu adalah benar, maka sama layaknya siapapun untuk merasa benar dengan kebebasannya sendiri, dan engkaulah yang keliru. Meskipun yang terlihat bagimu, seseorang tengah membuat penjara  untuk diri mereka sendiri. Tak mengapa jika kebebasan menurut mereka adalah seperti penjara yang terlihat bagimu. Tidak siapapun mendikte kebebasan. Tak siapapun berhak memaksakan kebebasannya untuk kebebasan orang lain.
Jika benar kebebasan itu ada. Tak siapapun perlu membicarakannya, tak siapapun perlu menuntut atau memintanya, karena sesiapa akan bebas dengan sendirinya. Selayaknya bagimu kebebasan itu ada, maka selayaknya aku pun bebas untuk percaya bahwa kebebasan itu tak pernah benar-benar ada.

* siapapun yang merasa tengah memperjuangkan kebebasan, kemerdekaan, hak azazi, yang tanpa sadar tengah membelenggu orang lain dengan memaksakan kebebasan menurut pemahamannya sendiri.

Posted in Label: | 0 komentar

Kompleksitas

Kompleksitas. Itulah hidup. Runtutan persoalan menuntut kedewasaan. Pertumbuhan emosional tidak selalu berarti seiring pertumbuhan usia. Beberapa terperangkap dalam dunia kanak-kanak dan memutuskan untuk mengurung diri dalam pemikiran sempit. Beberapa lainnya memutuskan untuk beranjak dan tegak dalam dunia kedewasaan dan perluasan wawasan. Bukan menunggu-nunggu waktu yang memberi putusan, tapi membuat keputusan sendiri. Kebebasan yang kuat.

Posted in Label: | 0 komentar

Saat bersedih, Menangislah!!


Tidak seorang pun bisa mendapat hidup yang penuh kebahagiaan sepanjang waktu. Tidak seorangpun mendapatkan semua yang diinginkannya persis seperti apa yang ia inginkan. Harapan, keinginan, impian dan cita-cita, semua adalah rencana teramat baik yang kita simpan rapat-rapat dalam harian di hati dan fikiran kita. Tapi sebuah rencana yang lebih besar telah dirancang jauh sebelum kita merencanakan kebahagiaan itu sendiri. Rencana berliku yang penuh pelajaran agar kita mampu meresapi kebahagiaan dengan selayaknya, maka dari itu sebuah pelajaran tentang kesedihan dan pahitnya terluka harus dipetik. Agar kita menghargai kebahagiaan.

Ada yang datang, ada yang pergi. Ada keramaian ada kesepian. Ada saat dimana kita dikelilingi begitu banyak sahabat baik yang menyenangkan, ada saatnya pula kita dikelilingi orang-orang yang berpacu untuk saling mendahului, menyikut dan menjatuhkan. Ada saatnya kita merasa dianugerahi banyak hadiah dan kejutan menyenangkan dan ada saatnya dirunuti persoalan yang rumit. Hidup adalah pelajaran, dan bukankah sebagian diantara kita adalah juga pelajaran untuk sebahagian lainnya. Dan sebahagaian diantara kita adalah ujian pula bagi sebahagiaan lainnya. Maka ujian itu bisa saja dalam bentuk kesedihan, rasa sakit hati, kekecewaan, rasa dikhianati dan rasa sedih ditinggalkan. Apa saja yang membuat hati kita lebih halus dari sebelumnya. Yang membuat kita merasa hidup dan menjadi manusia seutuhnya. Dan membuat kita tercenung, duduk, menatap dan berfikir matang tentang apa yang telah kita perbuat. Sebuah Introspeksi. Kesedihan seringkali membawa sebuah pelajaran tentang perbaikan.

Beberapa orang menganggap air mata adalah pertanda kelemahan. Apalagi jika anak laki-laki mereka menangis, maka mereka akan menganggap itu sebuah hal yang tabu. Tapi bukankah air mata tidak hanya diberikan untuk wanita. Air mata diberikan pada banyak makhluk hidup, bahkan tidak hanya pada manusia. Itu artinya siapa saja bisa menangis dan siapa saja boleh menangis, karena kesedihan tidak hanya milik sekelompok orang saja, kesedihan bisa menjadi milik siapa saja. Ketika rasa sakit hati dan kesedihan menghampiri, tidak perlu merasa malu dan lemah. Kekecewaan bukanlah pertanda kelemahan, ia adalah pelajaran untuk menjadi lebih kuat. Karena itu menangislah. Teteskan air matamu. Jatuhkan dengan penuh kesungguhan. Hilangkan semua beratnya beban itu. Serahkan seutuhnya pada rencana yang lebih besar, pada kekuasaan yang tak terhingga. Dan menangislah untuk kelegaan hatimu. Untuk mendapatkan perasaan yang lebih baik. Untuk menangisi rasa sakit dan kelemahan diri sendiri. Untuk menangisi penderitaan yang terasa perih. Tapi berhentilah untuk menjadi kuat. Menangislah untuk sesaat dan lantas terjagalah. Bergeraklah. Mulailah sesuatu untuk membuat akhir yang berbeda. Berjalanlah lebih tegap. Tegakkan bahu dan lihatlah ke sekeliling. Ada kehidupan lain yang berdenyut. Ada harapan dan cita-cita lain yang sedang mereka kejar. Pun ada kekecewaan dan kesedihan lain yang mereka miliki. Dan berbahagialah, karena semua orang memiliki kesedihan. Mereka pun menangis dan lantas terjaga untuk bangkit!


Jambi-MyRoOm -_-

Posted in Label: , | 0 komentar

Bersyukurlah hari ini


Ketika matahari menyelinap diam-diam di balik kaki langit yang kemerahan, tetes-tetes embun berlomba-lomba menjatuhkan diri. Akar-akar tanaman menggeliut di dalam perut bumi, mencari sumber makanan dan air. Makhluk-makhluk malam berebutan kembali ke sarangnya berganti dengan makhluk penghuni siang yang memulai perburuan. Bumi telah terjaga. Menggeliat perlahan memperlihatkan keanggunannya. Membiarkan sinar matahari pelan-pelan menerobos hamparan hutan dan sawah, memandikan lautan dengan kemilau pantulan cahayanya, seperti barisan permata dari kejauhan. Adakah engkau terjaga?

Terlalu sibuk memang, setiap rutinitas yang kita lewati. Bangun pagi-pagi, mandi, mematut diri di cermin, memburu sarapan dan memastikan segala hal telah sempurna. Nah! Saatnya untuk berangkat. Ada pertemuan penting hari ini. Ada kelas yang harus dipenuhi. Ada janji yang harus ditepati. Menunggu bis. Antrian panjang. Berbincang-bincang. Mengerjakan pekerjaan rumah.. Astaga! Hidup ini repot sekali. Setiap kesibukan itu seperti membuat kita menuntut terlalu banyak terhadap waktu. 24 jam rasanya kurang. Kehidupan seperti perburuan liar. Siapa cepat ia dapat, tidak peduli bagaimanapun caranya, setiap keinginan harus tercapai. Target demi target ditetapkan.  Pandangan kesuksesan orang lain dan prestise adalah sebuah impian. Materi dan kebahagiaan nyaris mencapai titik kesetaraan. Tapi setelah begitu jauh, adakah kita merasa puas? Adakah kita merasa bahagia?
                
 Terkadang kegembiraan tidak bersyarat. Tidak memilih tempat terbaik dan makanan terbaik. Hati yang tenang tidak memilih tempat. Karena ketenangan tidak berada di restoran terbaik, dengan makanan terenak, atau di rumah terbesar dengan perabotan yang lengkap, atau kehormatan yang tinggi dengan standar kesuksesan orang kebanyakan. Ia datang seperti keajaiban. Perwujudan nyata titik tertinggi rasa syukur, tanpa syarat. Adakah kita menemukan keajaiban itu? Di setiap pagi ketika matahari dan suara-suara alam membangunkan seisi bumi. Atau di setiap malam sebelum menutup kedua mata dan mengingat kilasan hari ini yang telah berlalu. Ketika matahari berganti bulan yang tersenyum redup bersama sayup senyap penghuni malam yang baru terjaga.
                 
Terjagalah hari ini dengan cara yang berbeda. Bukan lagi tentang jam weker dan pekerjaan rumah, tentang kerepotan mengurus anak-anak dan menyusun jadwal, atau tentang perbedaan pendapat yang menegangkan urat saraf, kemacetan, target harian, tagihan listrik, televisi baru dan rekening bank. Hari ini terjagalah dengan sebuah senyuman. Hari ini melongoklah ke luar jendela. Hiruplah udara pagi yang menyejukkan paru-paru. Pandangi sebentar keanggunan kemilau fajar yang merayap pelan, ada cahaya keemasan dan kepakan keperakan pada bias-bias sinarnya. Ada pucuk pepohonan yang bergelayut pada cahayanya, mencoba mencari sumber fotosintesis dan bernafas hari ini. Ada kehidupan lain yang di sudut-sudut batang coklatnya yang bercabang. Awan gemuk dan tipis berlomba-lomba melukis langit hari ini. Mereka membuat cerita sendiri tentang angin, cuaca, dan hujan. Dengarlah sapaan selamat pagi yang menggairahkan. Ketika bumi mekar bersenandung tasbih. Puja-puji seluruh alam atas keagungan tak terhingga. Lantas, Sudahkah kita bersyukur hari ini?

my-room

Posted in Label: , | 0 komentar

Adaptasi


Pelajaran yang menarik dari kelas biologi di Sekolah Menengah dulu adalah penyesuaian diri, adaptasi. Proses penyesuaian diri makhluk hidup terhadap lingkungan disekitarnya. Pelajaran ini menggambarkan bagaimana hewan-hewan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya yakni dengan melakukan perubahan diri yang menguntungkan kelangsungan hidup mereka. Pada kenyataannya spesies yang tidak sanggup menyesuaikan diri akan punah. Kepunahan merupakan kata mengerikan, karena bagaimanapun setiap spesies menginginkan kelanggengan generasi mereka.

Adaptasi dunia kerja, adaptasi kehidupan di lingkungan baru, kota baru dan masyarakat dengan budaya yang baru. Segalanya seringkali terasa memberatkan pada awalnya. Namun seiring berjalannya waktu kebiasaan-kebiasaan di lingkungan baru itu mulai menjadi bagian dari kita. Tidak peduli betapa sebuah budaya baru yang pada awalnya menurut kita adalah sesuatu yang asing, mau tidak mau harus menghadapi penyesuaian dengan budaya yang sudah melekat secara pribadi, yang kita bawa dari tempat sebelumnya. Lingkungan baru adalah magnet dengan pusaran kuat yang menarik energi kita ke dalam dirinya. Kebiasaan lama adalah magnet kecil lainnya yang bersikukuh untuk mempertahankan diri. Kekuatan kedua magnet ini lah yang mencerminkan adaptasi, seberapa besar kemampuan diri kita untuk menyesuaikan dengan keadaan lingkungan seringkali digambarkan dengan seberapa besar kita mampu menerima kebiasaan di lingkungan baru. Tapi apakah adaptasi hanyalah sebuah proses satu arah?

Sebagian orang bertahan dengan kepercayaan leluhur mereka. Orang-orang yang hidup dan tinggal di negeri lain masih mencoba mempertahankan bahasa dan kultur yang dianut nenek moyang mereka. Seberapa besar kultur dan budaya yang dipegang itu mampu bertahan terhadap budaya baru di negeri asing adalah hal lainnya. Namun pada kenyataannya proses adaptasi, penyesuaian diri tidak dapat disamakan dengan proses pemakluman kebiasaan baru di negeri baru, pun tidak bisa disamakan dengan proses perubahan diri mengikuti metoda dan cara-cara di negeri baru tersebut. Toh setiap individu memiliki kekuatan pribadi, sebuah egoisme yang berdiri di atas kepercayaan yang teguh pada prinsip yang mereka anut sendiri. Inilah mungkin yang membatasi ‘adaptasi’ dengan apa yang dinamakan sebuah ‘prinsip’.
 
Butuh beberapa waktu untuk merasa nyaman hidup dalam sebuah lingkungan dan masyarakat baru. Tapi apakah rasa nyaman yang kemudian muncul ini berarti titik penyesuaian diri tersebut telah tercapai? Apakah rasa nyaman di lingkungan baru dan sebaliknya lingkungan tersebut menerima dan merasa dengan nyaman dengan kita, ini menandakan bahwa titik penyesuaian tersebut telah terpenuhi? Ataukah perasaan nyaman ini dibangun dari kesadaran bahwa dalam beberapa hal kita yang berasal dari lingkungan lama, menemukan beberapa persamaan dengan lingkungan baru tersebut? Karena dengan menyadari adanya banyak kesamaan seringkali menimbulkan sebuah hubungan erat, semacam persaudaraan kuat yang tak terlihat. Akan tetapi darimana kesamaan-kesamaan ini terbangun? Apakah kita telah diubah oleh lingkungan sekitar kita, sehingga menganggap kebiasaan asing dan aneh itu menjadi sesuatu yang wajar, atau tanpa disadari kita sendiri justru telah membawa sebuah kebiasaan baru yang perlahan-lahan hingga titik tertentu telah mengubah kebiasaan lama di tempat yang baru tersebut? Lantas seberapa jauh lingkungan baru telah mengubah kita dan seberapa besar kita telah mengubah lingkungan tersebut? 

Mungkin ada baiknya kita mengukur kembali titik awal perjalanan ini dimulai dan melihat sejauh mana perubahan itu mampu memberikan dampak yang lebih baik. Karena jika tidak, bisa saja adaptasi tak lebih dari sebuah sistem alam dalam mengelompokkan spesies dengan sifat yang sama. Dan sifat yang terkuat lah yang akan memenangkan tempat, tak peduli seberapa baik atau buruknya sifat-sifat tersebut.
                                                                                                                               
                                                                                                                                Jambi, 17 Maret 2011

Posted in Label: , | 0 komentar

Membunuh rutinitas

Menghadapi rutinitas. Seperti menghadapi putaran roda yang membosankan. Berapa banyak orang-orang yang dituakan, atau setidaknya merasa menjadi telah menjadi tua dalam waktu singkat. Ketika kita tidak memiliki waktu sedikit saja hanya untuk sekadar menikmati apa yang telah kita pilih sebagai jalan hidup, maka faktanya rutinitas itu telah membunuhmu.

Kehidupan yang menetap di suatu kota sama artinya menenggelamkan diri dalam wawasan kota tersebut. Tenggelam bersama rutinitas, dihancurkan oleh kebobrokan peradaban sosial, dan semua sifat-sifat buruk yang menjadi kebiasaan wajar. Pembudayaan paksa pribadi. Lamat laun, tanpa kita sadari, kita tidak lagi menjadi makhluk asing di sebuah kota baru, tapi menjadi bagian dari sebuah peradaban lain, yang mungkin adalah asing bagi diri kita sendiri dulunya. Sebuah rutinitas baru yang berbeda, namun tetap sama dalam hal menjemukan.


Saat anda mulai merasa lebih tua dan bosan. Saat yang baik untuk bangun dan melakukannya dengan cara yang berbeda. Hari ini, bangunlah lebih awal, tengoklah keluar sana betapa matahari pagi sangat meneduhkan. Berapa lama gerangan semua aktifitas otak anda diisi oleh rutinitas harian yang lebih mementingkan materi? Saatnya beristirahat sejenak kawan! Saatnya berjalan di pagi yang teduh dan lembut, hiruplah udara yang segar hingga paru-parumu lembab. Dinginkan otakmu, bergegaslah melangkahkan kakimu ke tempat-tempat yang sebelumnya hanya tontonan sambil lewat. Jika hujan gerimis, tidak ada salahnya menikmati buliran air yang menetes dari langit. Anugrah itu indah, beberapa tetes air hujan hanya akan membasahimu, tidak akan membunuh.

Mungkin kesibukan kantor, sekolah, mengajar, mengurus anak-anak, melenakan kita dari banyak keindahan di luar sana. Kita lupa menengok langit yang biru dan menikmatinya sambil minum teh di halaman rumah. Berbaringlah di rerumputan dan biarkan matamu menatap angkasa yang luas. Nikmati keindahan bintang-bintang dan metafora yang mengagumkan. Susunan tata surya yang agung itu adalah keindahan tak berbayar, semuanya disajikan gratis oleh Sang Pencipta. Sudah saatnya terjaga dari rutinitas yang memerosokkan kita dalam lubang hitam pemikiran yang sempit. Ini hari yang indah untuk dimulai. Hari yang indah untuk mendengarkan suara-suara alam. Ini hari yang sungguh indah untuk bergerak!!

*mencoba membunuh rasa bosan...

Posted in Label: | 0 komentar

Setelah Perjuangan itu...

Setelah kesulitan itu ada kemudahan......

Sebuah kalimat sakti yg mengajarkan kita bagaimana menghargai sebuah perjuangan. Ketika optimisme kita nyaris berakhir ditelan gulungan ombak kesulitan, dan nyaris berhenti untuk segera merasa kalah, ketika jalan dihadapan kita terlihat begitu menanjak atau curam, maka ketika itu kita belajar mengenali diri sendiri. Tetap berjuang atau berhenti ditaklukkan rasa takut.

Yang aku tahu, diriku adalah gambaran optimisme besar. Aku menghipnotis diri sendiri dalam bingkaian mimpi dan cita-cita yang kuyakini penuh eksistensinya. Romantisme perjuangan berat yang diakhiri keberhasilan kupegang teguh sebagai hukum alam. Aku cukup angkuh untuk menyatakan bahwa rasa pesimis tak akan pernah menyentuh dinding-dinding hatiku. Dan keangkuhan itu membutuhkan pukulan besar sekadar untuk mengajariku tentang arti perjuangan yang sungguh-sungguh. Pada akhirnya aku takluk dan menemukan diriku tak lebih baik dari orang-orang kebanyakan. Nyaris aku tidak mempercayai lagi bahwa keajaiban adalah hadiah bagi pejuang yang tak kenal kata menyerah. Dinding optimismeku tiba-tiba tenggelam mengenaskan, sekarat!

Kita seringkali dihadapkan pada persoalan hidup. Titik-titik kecil kerumitan yang membuat kita masih bisa mengatakan dengan lantang bahwa Tuhan, dengan cara dan ukuran-Nya sendiri tengah menguji kita. Penuh keyakinan bahwa kita akan memenangkan ujian ini untuk melangkah ke ujian berikutnya. Kita terlena dengan keyakinan bahwa kasih sayang Tuhan selalu ditunjukkan dengan membuat kita menang pada setiap pertarungan, pada setiap ujian. Tapi bukankah kemenangan tidak selalu berhasil mengajarkan segalanya? hingga ketika perjuangan itu belum berakhir dengan kemenangan manis pada saat yang tepat menurut prasangka kita, justru kerumitan itu berubah menjadi bayangan gelap yang bahkan tak pernah ada dalam mimpi buruk kita, apakah ini saat yang tepat untuk bertanya tentang arti perjuangan? Apakah masih belum cukup? Atau mungkin justru dianggap tidak berarti! Awal sebuah pesimisme!

Sadar atau tidak ujian sesungguhnya justru datang ketika tidak sadar lagi bahwa itu adalah sebuah ujian.
Sungguh, berjuang di awal jalan jauh lebih mudah ketimbang bertahan untuk tetap berjuang ketika kita kehilangan kepercayaan diri. Tapi inilah perjuangan sesungguhnya. Perjuangan untuk mempertahankan kepercayaan akan pentingnya arti perjuangan itu sendiri.  Di titik ini menang atau kalah bukan lagi menjadi hal penting. Mempertahankan kemampuan untuk tetap percaya bahwa Tuhan selalu dan masih sedang mengamati adalah jauh lebih berharga. Rahasia sederhana, ini bukan lagi ujian tentang sebuah perjuangan....Kawan! Ini adalah titik dimana kita harus belajar tentang sesuatu yang jauh lebih sulit, kesabaran....Sungguh! Ini adalah ujian tentang kesabaran!


Dan bukankah Tuhanmu adalah Guru Yang Terbaik??

Posted in Label: , | 0 komentar

Perjalanan ini.....(terasa amat menyenangkan)

Aku sudah merindukan garis-garis lekuk pucuk pepohonan di pinggir jalan. Debu yang menguap bercerita tentang kisah kehidupan orang-orang yang duduk henyak di bangku bis. Menghirup udara negeri-negeri baru yang timbul tenggelam dalam cahaya terang dan gelap. Menepuk batas kesadaran dan fantasi. Ini adalah peristiwa menyenangkan yang kunamakan 'mudik lebaran'.

Aku tergila-gila pada semua kendaraan yang bisa membawaku melintasi satu kota ke kota lain. Inspirasi-inspirasi dan kekuatan bertahan manusiaku seringkali dialiri oleh sistematika perjalanan yang indah. Mari kita campakkan kebosanan rutinitas dan tumpukan rasa jenuh dengan melintasi tempat-tempat asing. Negeri-negeri baru seringkali menyimpan teka-teki dan semangat berapi-api. Sebuah jamuan indah yang menggiurkan. Tak pelak aku berharap melintasi negeri-negeri asing seperti darah para perantau yang mengalir di tubuhku.

Kita tidak perlu menuakan diri dalam himpitan hidup yang direcoki keluhan berkepanjangan. Atau membunuh diri diam-diam dalam standarisasi kebahagiaan orang lain. Kalau kau sudah merasa bahagia dengan segelas kopi coklat di pinggir jalan dengan suguhan lalu-lintas orang asing, atau sepotong roti kering dalam sebuah bus yang dingin, maka tidak perlu berpura-pura merasa membutuhkan restoran terbaik untuk sarapan. Sudah saatnya memiliki caramu sendiri untuk gembira. Maka jika perjalanan 'mudik lebaran'ku ini harus dilewati dalam sebuah bus gemuk yang dinginnya seperti kulkas, yang berguncang dan terhenyak di jalan berlubang, yang mencekik rasa laparku hingga titik kritis, maka tak perlu memusingkan bagaimana aku bisa merasa senang dengan perjalanan setengah hari dengan posisi duduk tanpa meluruskan kaki. Bukankah setiap kita memiliki caranya sendiri untuk merasa gembira? Maka biarkan aku menikmati perjalanan ini....


to@llH4pPyMudiK

Posted in Label: , | 2 komentar

Oleh2 Khas Minang

Oleh2 Khas Minang
Rendang Telur, Rp.45.000/kemasan isi 0,5 kg. CP:Widia (08982605727/08126795642)