Posted On Minggu, 27 Januari 2013 at
di
19.13
by chytra
"obatnya diminum tiga kali sehari satu sendok makan ya bu," seorang
petugas di apotek menyerahkan sebotol obat batuk kepada pasien sambil
tersenyum.
Informasi di atas seringkali kita temukan,
tidak hanya untuk sirup tetapi juga untuk sediaan cair lainnya seperti
suspensi, elixir.
Akan tetapi apa yang dimaksud dengan
sendok makan? apakah menggunakan sendok makan yang ada di rumah? atau
menggunakan sendok obat yang terdapat di dalam kemasan?
Pertanyaan yang sederhana tapi terkait dengan dosis obat. bukankah ketidaktepatan dosis akan mempengaruhi keberhasilan terapi?
Jika diamat-amati dari dekat ternyata dalam kemasan obat sudah disediakan sendok kecil dengan takaran 5ml dan 2,5 ml (yang ini harus diamati dari dekat karena tulisannya kecil :D ).
Ada
beberapa sediaan obat yang tidak menyediakan sendok tetapi pada tutup
botol obat telah disediakan takaran untuk mengukur cairan 5ml dan 2,5
ml.
Nah, jika kita merujuk kembali ke Farmakope Indonesia Edisi IV dinyatakan bahwa :
- sendok makan = 15 ml
- sendok bubur = 10 ml
- sendok teh = 5 ml
Itu
artinya jika 1 sendok makan adalah 15 ml dan 1 sendok takar obat yang
disediakan adalah 5 ml, maka jika dosis obat yang diberikan adalah :
3 x 1 sendok makan / hari,
maka itu artinya obat harus diminum sebanyak :
3 x 3 sendok takar (5ml)
maka dalam satu hari obat diminum sebanyak 9 sendok takar (5 ml)
Perlu
diperhatikan bahwa tidak semua sediaan sirup obat untuk dewasa memiliki
aturan dosis 1 sendok makan (15 ml), pada beberapa sediaan sirup ada
yang mencantumkan untuk dosis dewasa 10ml atau 5 ml per dosis.
Posted On Minggu, 13 Januari 2013 at
di
16.01
by chytra
Bicaralah tentang kebebasan. Selayaknya engkau bicara
dengan bebas, maka siapapun juga layak untuk diam. Selayaknya engkau merasa benar
dan mereka keliru, maka siapapun juga layak untuk merasa benar dan engkau
keliru. Seberapa besar engkau merasa bebas untuk berteriak, maka sebesar itu
pula siapapun merasa bebas untuk mengacuhkanmu. Bebaslah untuk beradab atau
tidak sama sekali. Bebaslah untuk menuntut, tak setuju, tapi siapapun sama juga
bebasnya untuk berkata ya, setuju dan tidak membantah. Tak satu sama lain pun
yang berhak untuk mengatakan yang lain pengecut atau pemberani.
Jika kebebasan itu benar ada, mengapa lagi engkau merasa perlu
untuk memperjuangkannya. Karena sekali waktu kebebasan itu diperjuangkan, ia
hanya akan menjadi tahanan dalam penjara pribadi milik seseorang. Sekali-kali
kebebasan tak pernah diperjuangkan. Keberadaannya akan hambar. Maka bebaslah
untuk memaki, menghujat, menghancurkan dan merampas, sama layaknya siapapun
bebas untuk berkata sopan, memperbaiki diri, membangun dan memberi. Dan tak
satu sama lain pun yang berhak menghakimi.
Selayaknya engkau merasa bebas untuk tidak memiliki aturan,
maka sama halnya siapapun layak untuk merasa bebas dengan memiliki aturan, yang
dianggapnya cara untuk kebebasannya sendiri. Jika engkau tak menyukai cara kebebasan
orang lain, maka mengapa tidak membuat rancangan kebebasan untuk dirimu sendiri,
daripada menuntut perubahan pemahaman kebebasan orang lain, yang sama artinya
menghancurkan kebebasan itu sendiri.
Jika kebebasan itu benar ada, maka siapapun bebas untuk tidak
percaya, sama halnya siapapun bebas untuk percaya. Siapapun bebas untuk ber-Tuhan
dengan sungguh-sungguh, atau tidak sama sekali. Selayaknya engkau bebas dalam
realis, siapapun juga bebas dalam idealis. Tak akan pernah ada kebebasan yang
hanya bisa membebaskan dirimu sendiri. Karena kebebasan tak dimiliki untuk
seseorang. Ia bebas tanpa menghakimi.
Selayaknya engkau merasa kebebasan menurut pemahamanmu adalah
benar, maka sama layaknya siapapun untuk merasa benar dengan kebebasannya
sendiri, dan engkaulah yang keliru. Meskipun yang terlihat bagimu, seseorang
tengah membuat penjara untuk diri mereka
sendiri. Tak mengapa jika kebebasan menurut mereka adalah seperti penjara yang
terlihat bagimu. Tidak siapapun mendikte kebebasan. Tak siapapun berhak
memaksakan kebebasannya untuk kebebasan orang lain.
Jika benar kebebasan itu ada. Tak siapapun perlu
membicarakannya, tak siapapun perlu menuntut atau memintanya, karena sesiapa
akan bebas dengan sendirinya. Selayaknya bagimu kebebasan itu ada, maka
selayaknya aku pun bebas untuk percaya bahwa kebebasan itu tak pernah benar-benar
ada.
*
siapapun yang merasa tengah memperjuangkan kebebasan, kemerdekaan, hak azazi, yang
tanpa sadar tengah membelenggu orang lain dengan memaksakan kebebasan menurut
pemahamannya sendiri.
Posted On Sabtu, 05 Januari 2013 at
di
19.10
by chytra
antalgin = metamizol = metampiron
Story:
Pasien diresepkan novalgin inj yang isinya metampiron. Karena di apotek
sediaan ini lagi kosong maka kami pun menawarkan opsi ketorolac inj
atau tramadol inj ( yang kebetulan lagi ada),..indikasi
yang dimaksud adalah efek antipiretik bukan analgetik krn paracetamol
oral dianggap tidak mempan. Hmm....sayangnya tidak ada lagi sediaan
antipiretik injeksi yang lain saat itu, kalo begitu.... ya sudahlah.....
Penasaran
dengan seberapa baik efek antipiretik metampiron ini maka ini dia search di
bbrpa litertur online atau dr bbrp buku standar, bwt nambah informasi n
sekaligus belajar. Tp tau ga hasilnya ketika search di
drugs.com. nah yang muncul tulisan berikut ini nih:
Metamizol : In some countries, this medicine may only be approved for veterinary use.
walaahh.......(jd penasarn negara mana aj yg dimaksud, yg jelas pasti bukan Indonesia, karena kita masih menggunakanya)
ketika search di
ncbi.com nemu data pendukung nih:
Metamizol
proved to be a very effective analgesic. When administered in
equipotent doses, it had its effects comparable to various opioid
analgesics, such as tramadol, pentazocine and pethidine. Beside the
strong analgesic effect, it produces also significant antipyretic and
splasmolytic effects without the adverse, unpleasant anticholinergic
impact
Ternyata memang cukup bagus efek
antipiretiknya, meskipun dinyatakan efek analgetiknya yang paling
diandalkan. Cukup memuaskan, pada bagian bawah paragraf ada tambahan ini
nih:
metamizol is a useful antipyretic both in the
adults and children. Its adverse effects are not pronounced and drug
interactions are minimal.
Aq masih penasaran, pengen
tw perbandingan efek antipiretik mana yang lebih kuat metamizol dg
parasetamol (secr obt ini paling sering digunakan untuk demam),
searching.......(belum ktemu)
ketemu
jurnal hasil penelitian:
Symptomatic intravenous antipyretic therapy: efficacy of metamizol, diclofenac, and propacetamol. All
study medications had a significant antipyretic effect.
However,metamizol at the dose 2500 mg was considered as the most
effective, while propacetamol at the dose 1000 mg showed the lowest
antipyretic efficacy.
Based
on the results of the present study, the choice of the antipyretic
drug should depend on the clinical status of patient,
contraindications, and potential adverse events and risks of the
selected agent.
Comparison of the antipyretic effect between ibuprofen, metamizol, nimesulide and paracetamol in children: All
the treatments were able to decrease significantly the fever and there
was not an statistically significant difference in the antipyretic
effects seen in the four groups of treatment.
Kesimpulan:
efek antipiretiknya tidak jauh berbeda. Pemilihan pun berdasarkan pada
keadaan pasien, kontraindikasi, dan resiko efek samping.
Jadi
kenapa penggunaan parasetamol lebih banyak daripada metamizol
(antalgin) untuk antipiretik? Hmm...seperti berdasarkan cost-efektifnya,
mengingat harga metamizol jauh lebih mahal daripada parasetamol.
Posted On Minggu, 08 Juli 2012 at
di
09.23
by chytra
Posted in |
Posted On Senin, 06 Februari 2012 at
di
01.39
by chytra
Horizon, ada garis tipis membatasi langit dan lautan. biru yang pekat dan hambar, sebuah gradasi tak tercampur. warna-warni yang dipoles sempurna. ada garis halus orange, jingga dan lembayung. riak-riak dibawah matahari yang masih redup menari dalam warna keperakan. sebuah kapal pencari ikan melintasi lautan dalam bayangan gelap seperti burung hantu yang bergegas pulang ke sarang sebelum subuh. bukit hijau yang rimbun. tanah berpasir putih kasar. udara asin namun lembut menyergap pori-pori. beberapa ekor kepiting berjingkat-jingkat, berpindah dari satu sarang ke sarang lainnya. membentuk lobang-lobang kecil di dalam pasir. lalu terburu-buru menyelusup sebelum terlihat makhluk lain. sungguh pemalu.
di utara dan selatan, di deretan bibir pantai yang berliku-liku. jejeran batu-batu hitam memecah ombak. suaranya sahut menyahut. memekik dalam hening, melantunkan nada oktaf demi oktaf. desiran pasir menyusut ke tengah lautan, layaknya paru-paru yang sedang diisi udara, laut bernafas. dalam hitungan detik ombak bergulung cepat, memburu, seperti hendak melepaskan kerinduan pada kawan lama yang tak berjumpa. berlari lalu menghempaskan diri pada bibir pantai yang landai atau pecah di batu-batu karang. bulir-bulir airnya menghambur di udara, dengan cepat serpihan kecilnya dihisap oksigen yang lapar. puluhan pasang kaki-kaki yang berebut gemuruhnya berloncatan riang tergelitik buih ombak yang asin. berlari dari ujung pantai ke ke ujung lainnya. mengejar dan dikejar ombak. memburu angin yang asin. ada gundukan istana pasir, terowongan tak bertuan, rumah kepiting, batu karang yang patah, pecahan kaca, sampah plastik.
di subuh buta di minggu pagi, puluhan kaki berkejaran, suara percakapan mengapung di udara yang lembab. ketika paru-paru dipompa cepat dan jantung mengatur ritme terbaiknya. atau ketika petang yang dipenuhi jejeran pedangang kaki lima, jagung bakar, bakso, mie ayam, pisang bakar, rujak pedas dan es kelapa muda. dan jejeran kendaran yang antri dalam deretan panjang, ada riuh rendah tawa dari sebuah keluarga kecil, sekelompok anak-anak, beberapa kawan yang lama tak berjumpa. lalu di malam yang sejuk ketika angin darat mulai bertiup mencari tujuan. ketika lampu-lampu jalan dinyalakan dan kelap kelip kapal pencari ikan bersileweran.
disana ada tempat berbagi cerita, berkeluh kesah, tempat sederhana untuk pesta ulang tahun kecil, merayakan pertemuan kembali, perpisahan, sebuah kabar tanpa berita, sebuah jalan tanpa ujung, tentang canda tawa, sebuah permintaan maaf, sebuah rasa sayang, romantisme dan kehangatan keluarga, atau dinginnya penyesalan, teman dalam keramaian atau dalam kesendirian. menjadi indah atau menjadi pilu. menatap langit sore atau menikmati udara sejuk di pagi hari, mengecap polusi di siang yang padat atau kehangatan malam. sekadar berjalan-jalan merasakan kasarnya bulir-bulir pasir atau atau menatap horizon tanpa batas, melihat langit dan kemudian bersyukur, alangkah indahnya anugerah ini.
*semoga pantai padang masih ada dan terjaga^_^
Posted in |
Posted On Minggu, 29 Januari 2012 at
di
19.09
by chytra
Kenapa cuma posting foto???!!!!!
Haha karena fotonya lucu ^_^
terserah saiaa dunk, blog2 saiaa ha haaaa....
lucu kan??!!
persahabatan yang dimulai dari bayi @_@ wah wah pinter
Alangkah damainya dunia jika kebaikan tetap hidup dan terjaga di dalam setiap diri kita. So tetap berjuang, tetap berlomba, tetap bersaing, sportif ....^_~.
Ayooo Ayooo siapa yg menang?!!!
TosSS dulu KawaN....ha ha...
Posted in |
Posted On Rabu, 13 April 2011 at
di
00.48
by chytra
Kompleksitas. Itulah hidup. Runtutan persoalan menuntut kedewasaan. Pertumbuhan emosional tidak selalu berarti seiring pertumbuhan usia. Beberapa terperangkap dalam dunia kanak-kanak dan memutuskan untuk mengurung diri dalam pemikiran sempit. Beberapa lainnya memutuskan untuk beranjak dan tegak dalam dunia kedewasaan dan perluasan wawasan. Bukan menunggu-nunggu waktu yang memberi putusan, tapi membuat keputusan sendiri. Kebebasan yang kuat.
Posted On Rabu, 30 Maret 2011 at
di
23.39
by chytra
Tidak seorang pun bisa mendapat hidup yang penuh kebahagiaan sepanjang waktu. Tidak seorangpun mendapatkan semua yang diinginkannya persis seperti apa yang ia inginkan. Harapan, keinginan, impian dan cita-cita, semua adalah rencana teramat baik yang kita simpan rapat-rapat dalam harian di hati dan fikiran kita. Tapi sebuah rencana yang lebih besar telah dirancang jauh sebelum kita merencanakan kebahagiaan itu sendiri. Rencana berliku yang penuh pelajaran agar kita mampu meresapi kebahagiaan dengan selayaknya, maka dari itu sebuah pelajaran tentang kesedihan dan pahitnya terluka harus dipetik. Agar kita menghargai kebahagiaan.
Ada yang datang, ada yang pergi. Ada keramaian ada kesepian. Ada saat dimana kita dikelilingi begitu banyak sahabat baik yang menyenangkan, ada saatnya pula kita dikelilingi orang-orang yang berpacu untuk saling mendahului, menyikut dan menjatuhkan. Ada saatnya kita merasa dianugerahi banyak hadiah dan kejutan menyenangkan dan ada saatnya dirunuti persoalan yang rumit. Hidup adalah pelajaran, dan bukankah sebagian diantara kita adalah juga pelajaran untuk sebahagian lainnya. Dan sebahagaian diantara kita adalah ujian pula bagi sebahagiaan lainnya. Maka ujian itu bisa saja dalam bentuk kesedihan, rasa sakit hati, kekecewaan, rasa dikhianati dan rasa sedih ditinggalkan. Apa saja yang membuat hati kita lebih halus dari sebelumnya. Yang membuat kita merasa hidup dan menjadi manusia seutuhnya. Dan membuat kita tercenung, duduk, menatap dan berfikir matang tentang apa yang telah kita perbuat. Sebuah Introspeksi. Kesedihan seringkali membawa sebuah pelajaran tentang perbaikan.
Beberapa orang menganggap air mata adalah pertanda kelemahan. Apalagi jika anak laki-laki mereka menangis, maka mereka akan menganggap itu sebuah hal yang tabu. Tapi bukankah air mata tidak hanya diberikan untuk wanita. Air mata diberikan pada banyak makhluk hidup, bahkan tidak hanya pada manusia. Itu artinya siapa saja bisa menangis dan siapa saja boleh menangis, karena kesedihan tidak hanya milik sekelompok orang saja, kesedihan bisa menjadi milik siapa saja. Ketika rasa sakit hati dan kesedihan menghampiri, tidak perlu merasa malu dan lemah. Kekecewaan bukanlah pertanda kelemahan, ia adalah pelajaran untuk menjadi lebih kuat. Karena itu menangislah. Teteskan air matamu. Jatuhkan dengan penuh kesungguhan. Hilangkan semua beratnya beban itu. Serahkan seutuhnya pada rencana yang lebih besar, pada kekuasaan yang tak terhingga. Dan menangislah untuk kelegaan hatimu. Untuk mendapatkan perasaan yang lebih baik. Untuk menangisi rasa sakit dan kelemahan diri sendiri. Untuk menangisi penderitaan yang terasa perih. Tapi berhentilah untuk menjadi kuat. Menangislah untuk sesaat dan lantas terjagalah. Bergeraklah. Mulailah sesuatu untuk membuat akhir yang berbeda. Berjalanlah lebih tegap. Tegakkan bahu dan lihatlah ke sekeliling. Ada kehidupan lain yang berdenyut. Ada harapan dan cita-cita lain yang sedang mereka kejar. Pun ada kekecewaan dan kesedihan lain yang mereka miliki. Dan berbahagialah, karena semua orang memiliki kesedihan. Mereka pun menangis dan lantas terjaga untuk bangkit!
Jambi-MyRoOm -_-
Posted On Minggu, 27 Maret 2011 at
di
23.38
by chytra
Ketika matahari menyelinap diam-diam di balik kaki langit yang kemerahan, tetes-tetes embun berlomba-lomba menjatuhkan diri. Akar-akar tanaman menggeliut di dalam perut bumi, mencari sumber makanan dan air. Makhluk-makhluk malam berebutan kembali ke sarangnya berganti dengan makhluk penghuni siang yang memulai perburuan. Bumi telah terjaga. Menggeliat perlahan memperlihatkan keanggunannya. Membiarkan sinar matahari pelan-pelan menerobos hamparan hutan dan sawah, memandikan lautan dengan kemilau pantulan cahayanya, seperti barisan permata dari kejauhan. Adakah engkau terjaga?
Terlalu sibuk memang, setiap rutinitas yang kita lewati. Bangun pagi-pagi, mandi, mematut diri di cermin, memburu sarapan dan memastikan segala hal telah sempurna. Nah! Saatnya untuk berangkat. Ada pertemuan penting hari ini. Ada kelas yang harus dipenuhi. Ada janji yang harus ditepati. Menunggu bis. Antrian panjang. Berbincang-bincang. Mengerjakan pekerjaan rumah.. Astaga! Hidup ini repot sekali. Setiap kesibukan itu seperti membuat kita menuntut terlalu banyak terhadap waktu. 24 jam rasanya kurang. Kehidupan seperti perburuan liar. Siapa cepat ia dapat, tidak peduli bagaimanapun caranya, setiap keinginan harus tercapai. Target demi target ditetapkan. Pandangan kesuksesan orang lain dan prestise adalah sebuah impian. Materi dan kebahagiaan nyaris mencapai titik kesetaraan. Tapi setelah begitu jauh, adakah kita merasa puas? Adakah kita merasa bahagia?
Terkadang kegembiraan tidak bersyarat. Tidak memilih tempat terbaik dan makanan terbaik. Hati yang tenang tidak memilih tempat. Karena ketenangan tidak berada di restoran terbaik, dengan makanan terenak, atau di rumah terbesar dengan perabotan yang lengkap, atau kehormatan yang tinggi dengan standar kesuksesan orang kebanyakan. Ia datang seperti keajaiban. Perwujudan nyata titik tertinggi rasa syukur, tanpa syarat. Adakah kita menemukan keajaiban itu? Di setiap pagi ketika matahari dan suara-suara alam membangunkan seisi bumi. Atau di setiap malam sebelum menutup kedua mata dan mengingat kilasan hari ini yang telah berlalu. Ketika matahari berganti bulan yang tersenyum redup bersama sayup senyap penghuni malam yang baru terjaga.
Terjagalah hari ini dengan cara yang berbeda. Bukan lagi tentang jam weker dan pekerjaan rumah, tentang kerepotan mengurus anak-anak dan menyusun jadwal, atau tentang perbedaan pendapat yang menegangkan urat saraf, kemacetan, target harian, tagihan listrik, televisi baru dan rekening bank. Hari ini terjagalah dengan sebuah senyuman. Hari ini melongoklah ke luar jendela. Hiruplah udara pagi yang menyejukkan paru-paru. Pandangi sebentar keanggunan kemilau fajar yang merayap pelan, ada cahaya keemasan dan kepakan keperakan pada bias-bias sinarnya. Ada pucuk pepohonan yang bergelayut pada cahayanya, mencoba mencari sumber fotosintesis dan bernafas hari ini. Ada kehidupan lain yang di sudut-sudut batang coklatnya yang bercabang. Awan gemuk dan tipis berlomba-lomba melukis langit hari ini. Mereka membuat cerita sendiri tentang angin, cuaca, dan hujan. Dengarlah sapaan selamat pagi yang menggairahkan. Ketika bumi mekar bersenandung tasbih. Puja-puji seluruh alam atas keagungan tak terhingga. Lantas, Sudahkah kita bersyukur hari ini?
my-room
Posted On Kamis, 17 Maret 2011 at
di
15.46
by chytra
Pelajaran yang menarik dari kelas biologi di Sekolah Menengah dulu adalah penyesuaian diri, adaptasi. Proses penyesuaian diri makhluk hidup terhadap lingkungan disekitarnya. Pelajaran ini menggambarkan bagaimana hewan-hewan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya yakni dengan melakukan perubahan diri yang menguntungkan kelangsungan hidup mereka. Pada kenyataannya spesies yang tidak sanggup menyesuaikan diri akan punah. Kepunahan merupakan kata mengerikan, karena bagaimanapun setiap spesies menginginkan kelanggengan generasi mereka.
Adaptasi dunia kerja, adaptasi kehidupan di lingkungan baru, kota baru dan masyarakat dengan budaya yang baru. Segalanya seringkali terasa memberatkan pada awalnya. Namun seiring berjalannya waktu kebiasaan-kebiasaan di lingkungan baru itu mulai menjadi bagian dari kita. Tidak peduli betapa sebuah budaya baru yang pada awalnya menurut kita adalah sesuatu yang asing, mau tidak mau harus menghadapi penyesuaian dengan budaya yang sudah melekat secara pribadi, yang kita bawa dari tempat sebelumnya. Lingkungan baru adalah magnet dengan pusaran kuat yang menarik energi kita ke dalam dirinya. Kebiasaan lama adalah magnet kecil lainnya yang bersikukuh untuk mempertahankan diri. Kekuatan kedua magnet ini lah yang mencerminkan adaptasi, seberapa besar kemampuan diri kita untuk menyesuaikan dengan keadaan lingkungan seringkali digambarkan dengan seberapa besar kita mampu menerima kebiasaan di lingkungan baru. Tapi apakah adaptasi hanyalah sebuah proses satu arah?
Sebagian orang bertahan dengan kepercayaan leluhur mereka. Orang-orang yang hidup dan tinggal di negeri lain masih mencoba mempertahankan bahasa dan kultur yang dianut nenek moyang mereka. Seberapa besar kultur dan budaya yang dipegang itu mampu bertahan terhadap budaya baru di negeri asing adalah hal lainnya. Namun pada kenyataannya proses adaptasi, penyesuaian diri tidak dapat disamakan dengan proses pemakluman kebiasaan baru di negeri baru, pun tidak bisa disamakan dengan proses perubahan diri mengikuti metoda dan cara-cara di negeri baru tersebut. Toh setiap individu memiliki kekuatan pribadi, sebuah egoisme yang berdiri di atas kepercayaan yang teguh pada prinsip yang mereka anut sendiri. Inilah mungkin yang membatasi ‘adaptasi’ dengan apa yang dinamakan sebuah ‘prinsip’.
Butuh beberapa waktu untuk merasa nyaman hidup dalam sebuah lingkungan dan masyarakat baru. Tapi apakah rasa nyaman yang kemudian muncul ini berarti titik penyesuaian diri tersebut telah tercapai? Apakah rasa nyaman di lingkungan baru dan sebaliknya lingkungan tersebut menerima dan merasa dengan nyaman dengan kita, ini menandakan bahwa titik penyesuaian tersebut telah terpenuhi? Ataukah perasaan nyaman ini dibangun dari kesadaran bahwa dalam beberapa hal kita yang berasal dari lingkungan lama, menemukan beberapa persamaan dengan lingkungan baru tersebut? Karena dengan menyadari adanya banyak kesamaan seringkali menimbulkan sebuah hubungan erat, semacam persaudaraan kuat yang tak terlihat. Akan tetapi darimana kesamaan-kesamaan ini terbangun? Apakah kita telah diubah oleh lingkungan sekitar kita, sehingga menganggap kebiasaan asing dan aneh itu menjadi sesuatu yang wajar, atau tanpa disadari kita sendiri justru telah membawa sebuah kebiasaan baru yang perlahan-lahan hingga titik tertentu telah mengubah kebiasaan lama di tempat yang baru tersebut? Lantas seberapa jauh lingkungan baru telah mengubah kita dan seberapa besar kita telah mengubah lingkungan tersebut?
Mungkin ada baiknya kita mengukur kembali titik awal perjalanan ini dimulai dan melihat sejauh mana perubahan itu mampu memberikan dampak yang lebih baik. Karena jika tidak, bisa saja adaptasi tak lebih dari sebuah sistem alam dalam mengelompokkan spesies dengan sifat yang sama. Dan sifat yang terkuat lah yang akan memenangkan tempat, tak peduli seberapa baik atau buruknya sifat-sifat tersebut.
Jambi, 17 Maret 2011