Jika Kebebasan Itu Benar Ada
Posted On Minggu, 13 Januari 2013 at di 16.01 by chytra
Bicaralah tentang kebebasan. Selayaknya engkau bicara
dengan bebas, maka siapapun juga layak untuk diam. Selayaknya engkau merasa benar
dan mereka keliru, maka siapapun juga layak untuk merasa benar dan engkau
keliru. Seberapa besar engkau merasa bebas untuk berteriak, maka sebesar itu
pula siapapun merasa bebas untuk mengacuhkanmu. Bebaslah untuk beradab atau
tidak sama sekali. Bebaslah untuk menuntut, tak setuju, tapi siapapun sama juga
bebasnya untuk berkata ya, setuju dan tidak membantah. Tak satu sama lain pun
yang berhak untuk mengatakan yang lain pengecut atau pemberani.
Jika kebebasan itu benar ada, mengapa lagi engkau merasa perlu
untuk memperjuangkannya. Karena sekali waktu kebebasan itu diperjuangkan, ia
hanya akan menjadi tahanan dalam penjara pribadi milik seseorang. Sekali-kali
kebebasan tak pernah diperjuangkan. Keberadaannya akan hambar. Maka bebaslah
untuk memaki, menghujat, menghancurkan dan merampas, sama layaknya siapapun
bebas untuk berkata sopan, memperbaiki diri, membangun dan memberi. Dan tak
satu sama lain pun yang berhak menghakimi.
Selayaknya engkau merasa bebas untuk tidak memiliki aturan,
maka sama halnya siapapun layak untuk merasa bebas dengan memiliki aturan, yang
dianggapnya cara untuk kebebasannya sendiri. Jika engkau tak menyukai cara kebebasan
orang lain, maka mengapa tidak membuat rancangan kebebasan untuk dirimu sendiri,
daripada menuntut perubahan pemahaman kebebasan orang lain, yang sama artinya
menghancurkan kebebasan itu sendiri.
Jika kebebasan itu benar ada, maka siapapun bebas untuk tidak
percaya, sama halnya siapapun bebas untuk percaya. Siapapun bebas untuk ber-Tuhan
dengan sungguh-sungguh, atau tidak sama sekali. Selayaknya engkau bebas dalam
realis, siapapun juga bebas dalam idealis. Tak akan pernah ada kebebasan yang
hanya bisa membebaskan dirimu sendiri. Karena kebebasan tak dimiliki untuk
seseorang. Ia bebas tanpa menghakimi.
Selayaknya engkau merasa kebebasan menurut pemahamanmu adalah
benar, maka sama layaknya siapapun untuk merasa benar dengan kebebasannya
sendiri, dan engkaulah yang keliru. Meskipun yang terlihat bagimu, seseorang
tengah membuat penjara untuk diri mereka
sendiri. Tak mengapa jika kebebasan menurut mereka adalah seperti penjara yang
terlihat bagimu. Tidak siapapun mendikte kebebasan. Tak siapapun berhak
memaksakan kebebasannya untuk kebebasan orang lain.
Jika benar kebebasan itu ada. Tak siapapun perlu
membicarakannya, tak siapapun perlu menuntut atau memintanya, karena sesiapa
akan bebas dengan sendirinya. Selayaknya bagimu kebebasan itu ada, maka
selayaknya aku pun bebas untuk percaya bahwa kebebasan itu tak pernah benar-benar
ada.
*
siapapun yang merasa tengah memperjuangkan kebebasan, kemerdekaan, hak azazi, yang
tanpa sadar tengah membelenggu orang lain dengan memaksakan kebebasan menurut
pemahamannya sendiri.
Antipiretik: Antalgin vs Parasetamol??
Posted On Sabtu, 05 Januari 2013 at di 19.10 by chytraMetamizol proved to be a very effective analgesic. When administered in equipotent doses, it had its effects comparable to various opioid analgesics, such as tramadol, pentazocine and pethidine. Beside the strong analgesic effect, it produces also significant antipyretic and splasmolytic effects without the adverse, unpleasant anticholinergic impactTernyata memang cukup bagus efek antipiretiknya, meskipun dinyatakan efek analgetiknya yang paling diandalkan. Cukup memuaskan, pada bagian bawah paragraf ada tambahan ini nih:
metamizol is a useful antipyretic both in the adults and children. Its adverse effects are not pronounced and drug interactions are minimal.Aq masih penasaran, pengen tw perbandingan efek antipiretik mana yang lebih kuat metamizol dg parasetamol (secr obt ini paling sering digunakan untuk demam),
Based on the results of the present study, the choice of the antipyretic drug should depend on the clinical status of patient, contraindications, and potential adverse events and risks of the selected agent.
Kesimpulan: efek antipiretiknya tidak jauh berbeda. Pemilihan pun berdasarkan pada keadaan pasien, kontraindikasi, dan resiko efek samping.
Jadi kenapa penggunaan parasetamol lebih banyak daripada metamizol (antalgin) untuk antipiretik? Hmm...seperti berdasarkan cost-efektifnya, mengingat harga metamizol jauh lebih mahal daripada parasetamol.
