Setelah Perjuangan itu...
Posted On Senin, 11 Oktober 2010 at di 20.52 by chytra
Setelah kesulitan itu ada kemudahan......
Sebuah kalimat sakti yg mengajarkan kita bagaimana menghargai sebuah perjuangan. Ketika optimisme kita nyaris berakhir ditelan gulungan ombak kesulitan, dan nyaris berhenti untuk segera merasa kalah, ketika jalan dihadapan kita terlihat begitu menanjak atau curam, maka ketika itu kita belajar mengenali diri sendiri. Tetap berjuang atau berhenti ditaklukkan rasa takut.
Yang aku tahu, diriku adalah gambaran optimisme besar. Aku menghipnotis diri sendiri dalam bingkaian mimpi dan cita-cita yang kuyakini penuh eksistensinya. Romantisme perjuangan berat yang diakhiri keberhasilan kupegang teguh sebagai hukum alam. Aku cukup angkuh untuk menyatakan bahwa rasa pesimis tak akan pernah menyentuh dinding-dinding hatiku. Dan keangkuhan itu membutuhkan pukulan besar sekadar untuk mengajariku tentang arti perjuangan yang sungguh-sungguh. Pada akhirnya aku takluk dan menemukan diriku tak lebih baik dari orang-orang kebanyakan. Nyaris aku tidak mempercayai lagi bahwa keajaiban adalah hadiah bagi pejuang yang tak kenal kata menyerah. Dinding optimismeku tiba-tiba tenggelam mengenaskan, sekarat!
Kita seringkali dihadapkan pada persoalan hidup. Titik-titik kecil kerumitan yang membuat kita masih bisa mengatakan dengan lantang bahwa Tuhan, dengan cara dan ukuran-Nya sendiri tengah menguji kita. Penuh keyakinan bahwa kita akan memenangkan ujian ini untuk melangkah ke ujian berikutnya. Kita terlena dengan keyakinan bahwa kasih sayang Tuhan selalu ditunjukkan dengan membuat kita menang pada setiap pertarungan, pada setiap ujian. Tapi bukankah kemenangan tidak selalu berhasil mengajarkan segalanya? hingga ketika perjuangan itu belum berakhir dengan kemenangan manis pada saat yang tepat menurut prasangka kita, justru kerumitan itu berubah menjadi bayangan gelap yang bahkan tak pernah ada dalam mimpi buruk kita, apakah ini saat yang tepat untuk bertanya tentang arti perjuangan? Apakah masih belum cukup? Atau mungkin justru dianggap tidak berarti! Awal sebuah pesimisme!
Sadar atau tidak ujian sesungguhnya justru datang ketika tidak sadar lagi bahwa itu adalah sebuah ujian.
Sungguh, berjuang di awal jalan jauh lebih mudah ketimbang bertahan untuk tetap berjuang ketika kita kehilangan kepercayaan diri. Tapi inilah perjuangan sesungguhnya. Perjuangan untuk mempertahankan kepercayaan akan pentingnya arti perjuangan itu sendiri. Di titik ini menang atau kalah bukan lagi menjadi hal penting. Mempertahankan kemampuan untuk tetap percaya bahwa Tuhan selalu dan masih sedang mengamati adalah jauh lebih berharga. Rahasia sederhana, ini bukan lagi ujian tentang sebuah perjuangan....Kawan! Ini adalah titik dimana kita harus belajar tentang sesuatu yang jauh lebih sulit, kesabaran....Sungguh! Ini adalah ujian tentang kesabaran!
Dan bukankah Tuhanmu adalah Guru Yang Terbaik??
Sebuah kalimat sakti yg mengajarkan kita bagaimana menghargai sebuah perjuangan. Ketika optimisme kita nyaris berakhir ditelan gulungan ombak kesulitan, dan nyaris berhenti untuk segera merasa kalah, ketika jalan dihadapan kita terlihat begitu menanjak atau curam, maka ketika itu kita belajar mengenali diri sendiri. Tetap berjuang atau berhenti ditaklukkan rasa takut.
Yang aku tahu, diriku adalah gambaran optimisme besar. Aku menghipnotis diri sendiri dalam bingkaian mimpi dan cita-cita yang kuyakini penuh eksistensinya. Romantisme perjuangan berat yang diakhiri keberhasilan kupegang teguh sebagai hukum alam. Aku cukup angkuh untuk menyatakan bahwa rasa pesimis tak akan pernah menyentuh dinding-dinding hatiku. Dan keangkuhan itu membutuhkan pukulan besar sekadar untuk mengajariku tentang arti perjuangan yang sungguh-sungguh. Pada akhirnya aku takluk dan menemukan diriku tak lebih baik dari orang-orang kebanyakan. Nyaris aku tidak mempercayai lagi bahwa keajaiban adalah hadiah bagi pejuang yang tak kenal kata menyerah. Dinding optimismeku tiba-tiba tenggelam mengenaskan, sekarat!
Kita seringkali dihadapkan pada persoalan hidup. Titik-titik kecil kerumitan yang membuat kita masih bisa mengatakan dengan lantang bahwa Tuhan, dengan cara dan ukuran-Nya sendiri tengah menguji kita. Penuh keyakinan bahwa kita akan memenangkan ujian ini untuk melangkah ke ujian berikutnya. Kita terlena dengan keyakinan bahwa kasih sayang Tuhan selalu ditunjukkan dengan membuat kita menang pada setiap pertarungan, pada setiap ujian. Tapi bukankah kemenangan tidak selalu berhasil mengajarkan segalanya? hingga ketika perjuangan itu belum berakhir dengan kemenangan manis pada saat yang tepat menurut prasangka kita, justru kerumitan itu berubah menjadi bayangan gelap yang bahkan tak pernah ada dalam mimpi buruk kita, apakah ini saat yang tepat untuk bertanya tentang arti perjuangan? Apakah masih belum cukup? Atau mungkin justru dianggap tidak berarti! Awal sebuah pesimisme!
Sadar atau tidak ujian sesungguhnya justru datang ketika tidak sadar lagi bahwa itu adalah sebuah ujian.
Sungguh, berjuang di awal jalan jauh lebih mudah ketimbang bertahan untuk tetap berjuang ketika kita kehilangan kepercayaan diri. Tapi inilah perjuangan sesungguhnya. Perjuangan untuk mempertahankan kepercayaan akan pentingnya arti perjuangan itu sendiri. Di titik ini menang atau kalah bukan lagi menjadi hal penting. Mempertahankan kemampuan untuk tetap percaya bahwa Tuhan selalu dan masih sedang mengamati adalah jauh lebih berharga. Rahasia sederhana, ini bukan lagi ujian tentang sebuah perjuangan....Kawan! Ini adalah titik dimana kita harus belajar tentang sesuatu yang jauh lebih sulit, kesabaran....Sungguh! Ini adalah ujian tentang kesabaran!
Dan bukankah Tuhanmu adalah Guru Yang Terbaik??
Perjalanan ini.....(terasa amat menyenangkan)
Posted On Rabu, 01 September 2010 at di 15.42 by chytra
Aku sudah merindukan garis-garis lekuk pucuk pepohonan di pinggir jalan. Debu yang menguap bercerita tentang kisah kehidupan orang-orang yang duduk henyak di bangku bis. Menghirup udara negeri-negeri baru yang timbul tenggelam dalam cahaya terang dan gelap. Menepuk batas kesadaran dan fantasi. Ini adalah peristiwa menyenangkan yang kunamakan 'mudik lebaran'.
Aku tergila-gila pada semua kendaraan yang bisa membawaku melintasi satu kota ke kota lain. Inspirasi-inspirasi dan kekuatan bertahan manusiaku seringkali dialiri oleh sistematika perjalanan yang indah. Mari kita campakkan kebosanan rutinitas dan tumpukan rasa jenuh dengan melintasi tempat-tempat asing. Negeri-negeri baru seringkali menyimpan teka-teki dan semangat berapi-api. Sebuah jamuan indah yang menggiurkan. Tak pelak aku berharap melintasi negeri-negeri asing seperti darah para perantau yang mengalir di tubuhku.
Kita tidak perlu menuakan diri dalam himpitan hidup yang direcoki keluhan berkepanjangan. Atau membunuh diri diam-diam dalam standarisasi kebahagiaan orang lain. Kalau kau sudah merasa bahagia dengan segelas kopi coklat di pinggir jalan dengan suguhan lalu-lintas orang asing, atau sepotong roti kering dalam sebuah bus yang dingin, maka tidak perlu berpura-pura merasa membutuhkan restoran terbaik untuk sarapan. Sudah saatnya memiliki caramu sendiri untuk gembira. Maka jika perjalanan 'mudik lebaran'ku ini harus dilewati dalam sebuah bus gemuk yang dinginnya seperti kulkas, yang berguncang dan terhenyak di jalan berlubang, yang mencekik rasa laparku hingga titik kritis, maka tak perlu memusingkan bagaimana aku bisa merasa senang dengan perjalanan setengah hari dengan posisi duduk tanpa meluruskan kaki. Bukankah setiap kita memiliki caranya sendiri untuk merasa gembira? Maka biarkan aku menikmati perjalanan ini....
to@llH4pPyMudiK
Aku tergila-gila pada semua kendaraan yang bisa membawaku melintasi satu kota ke kota lain. Inspirasi-inspirasi dan kekuatan bertahan manusiaku seringkali dialiri oleh sistematika perjalanan yang indah. Mari kita campakkan kebosanan rutinitas dan tumpukan rasa jenuh dengan melintasi tempat-tempat asing. Negeri-negeri baru seringkali menyimpan teka-teki dan semangat berapi-api. Sebuah jamuan indah yang menggiurkan. Tak pelak aku berharap melintasi negeri-negeri asing seperti darah para perantau yang mengalir di tubuhku.
Kita tidak perlu menuakan diri dalam himpitan hidup yang direcoki keluhan berkepanjangan. Atau membunuh diri diam-diam dalam standarisasi kebahagiaan orang lain. Kalau kau sudah merasa bahagia dengan segelas kopi coklat di pinggir jalan dengan suguhan lalu-lintas orang asing, atau sepotong roti kering dalam sebuah bus yang dingin, maka tidak perlu berpura-pura merasa membutuhkan restoran terbaik untuk sarapan. Sudah saatnya memiliki caramu sendiri untuk gembira. Maka jika perjalanan 'mudik lebaran'ku ini harus dilewati dalam sebuah bus gemuk yang dinginnya seperti kulkas, yang berguncang dan terhenyak di jalan berlubang, yang mencekik rasa laparku hingga titik kritis, maka tak perlu memusingkan bagaimana aku bisa merasa senang dengan perjalanan setengah hari dengan posisi duduk tanpa meluruskan kaki. Bukankah setiap kita memiliki caranya sendiri untuk merasa gembira? Maka biarkan aku menikmati perjalanan ini....
to@llH4pPyMudiK

